Home > My Notes > Munajat Cinta III – (Surat Untuk-Nya)

Munajat Cinta III – (Surat Untuk-Nya)

Kepada Sang Pemilik Cinta,
Yang Maha Kasih di antara Para Kekasih.

—-

Ada saatnya ketika hamba-Mu ini merasakan betapa hidup adalah perjalanan panjang dengan jalan berliku yang sungguh terasa berat untuk ditempuh seorang diri,

Namun tiba saatnya pula ketika dengan penuh pengertian dan kasih sayang-Mu, Engkau ijinkan seseorang masuk ke dalam relung hatiku begitu dalam hingga aku menyayangi dan mencintainya sepenuh hati,

Betapa indah masa itu, Tuhan..

Kau hadirkan dia yang senantiasa saling mengingatkan untuk selalu mengingat-Mu,
Kau hadirkan dia yang senantiasa saling menolong dan menguatkan dalam kesabaran dan kebaikan,
Kau hadirkan dia yang menjadi tempat saling berbagi ilmu dan hikmah-Mu,
Kau hadirkan dia bagai sejuknya air di kala dahaga..

Betapa indah masa itu, Tuhan..

Meski waktu itu, aku juga bukan lelaki sempurna, tapi Engkaulah yang mengijinkan hatinya untuk berkenan menerima dan mencintaiku, karena-Mu.. Aku tahu, Tuhan,

Engkaulah yang berkenan menghujamkan cinta dalam kalbu hamba-hamba yang Engkau kehendaki..

—-

Tuhan, Betapa indah masa itu,

Hampir saja kebahagiaanku sempurna dengan menyempurnakan separuh agamaku bersamanya,
Sampai tiba masanya, ketika hadir orang lain yang juga memiliki kesungguhan untuk memiliki keindahan cintanya,

Dan… ketika seseorang bersungguh-sungguh memiliki niat untuk berbuat baik, pasti Engkau memberinya kesempatan..

Dan, kesempatan itu pun tiba,
Dia, wanita yang semula Engkau ijinkan masuk dalam hatiku, akhirnya memilih orang lain yang mungkin di matanya, tampak lebih bersungguh-sungguh ingin mencintainya, — padahal dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku pun mencintainya sepenuh hati, Tuhan –

Namun dia telah memilih keputusannya, seseorang yang telah begitu dekat menyentuh hati dan jiwa ini pergi – dan separuh jiwaku pun ikut pergi, memang indah semula, tapi berakhir duka..

Tuhan, butuh waktu lama sekali aku untuk mencoba mengerti yang dia katakan bahwa ini semua dilakukannya demi kebahagiaanku, agar aku mendapat orang lain yang lebih pantas untukku..

Tidakkah dia mengerti bahwa kebahagiaanku ada bersamanya?
Apakah memang memberikan kebahagiaan dilakukan justru dengan cara yang sangat menyakitkan?

Beruntung waktu itu Engkau masih menuntunku untuk menjadikan sabar dan sholat sebagai penolongku. Aku bersimpuh dan sujud di hadapan-Mu, bahwa segala yang datang dari-Mu pasti akan kembali pada-Mu,

Engkau pulalah yang mampu mengambil kembali cinta itu dari kalbu mereka yang Engkau kehendaki..

—-

Tuhanku yang Maha Baik, Santun dan Penyabar,

Engkaulah yang Paling Banyak Bersabar,
karena setiap hari bahkan setiap waktu,
banyak orang yang tidak mempercayai-Mu,
banyak orang yang tidak menyapa-Mu bahkan tidak menjawab sapaan-Mu,
banyak orang yang tidak pernah mengajak-Mu berbincang-bincang,
banyak orang yang tidak memperdulikan-Mu,
bahkan banyak orang yang menduakan-Mu..

Tetapi Engkau senantiasa bersabar atas mereka,
Karena kasih-Mu yang begitu luas tak terbatas,

Engkau masih berkenan memudahkan urusan-urusan mereka,
Engkau masih berkenan menyembuhkan mereka yang sakit,
Engkau masih berkenan mengkaruniakan kesenangan dunia pada mereka,
Engkau masih berkenan untuk selalu memaafkan apapun dan seberapapun besar kesalahan mereka,
Engkau masih berkenan menerima mereka kembali kapan saja mereka datang pada-Mu..

Dan aku tahu, Engkau hanya meminta sedikit saja, hanya IKHLAS dan SABAR sebagaimana yang telah Engkau tunjukkan caranya..

Namun betapa lemahnya diri ini, Tuhan. Kesabaran dan keikhlasan yang kubina dalam hati selalu terombang-ambing perasaan..

Adakalanya, begitu damai, tenang dan lapang hati ini menerima semua sebagai ketentuan-Mu yang terbaik dan terindah yang telah Engkau rencanakan untukku sejak dulu,

Adakalanya juga, tiba-tiba perih itu terbuka kembali, bersama kemarahan dan kekecewaan hati atas luka sepihak yang tidak juga kunjung kumengerti,

Hari ini, Tuhan, untuk yang kesekian kalinya aku menata kembali hati ini,

Beberapa hari terakhir ini, Engkau telah mengijinkanku untuk menerima dan berbagi pengertian tentang makna cinta yang mulia, dari kisah orang-orang yang terdahulu..

Hari ini, Tuhan, aku kembali menata hati, Dan jika Engkau mengijinkan,

Perkenankanlah hati ini memiliki cinta seperti cinta pak Suyatno kepada istrinya,
cinta yang tulus memberi, cinta yang tak lekang oleh waktu dan keadaan,
cinta yang sepenuh hati karena-Mu,

Perkenankanlah hati ini memiliki cinta seperti cinta walid kepada istrinya,
cinta yang jujur, sungguh-sungguh, ikhlas memaafkan, penuh ketulusan dan kebaikan,
cinta yang mulia dan saling memuliakan, Sungguh Tuhan..

Engkaulah yang memuliakan mereka yang saling mencintai karena-Mu dan berada di jalan ridho-Mu..

—-

Duhai Sang Pemilik Cinta,

Engkau tahu, diri kami sungguh lemah, maka kuatkanlah kami,
Kuatkanlah kami agar senantiasa menjaga kemuliaan cinta itu dalam jalan yang Engkau ridhoi,

Sungguh, kami memohon dengan sepenuh hati, jagalah dan hindarkan kami dari cinta yang memalingkan kami dari-Mu, seperti cinta Sarjono dan Sumarsih, yang telah Engkau tunjukkan kehinaannya di depan orang banyak, justru pada ujung nafas terakhirnya…

Jagalah kami dari keadaan mereka yang Engkau panggil dalam pelukan kekasihnya yang tidak halal, mereka mengira itu adalah kasih sayang sehidup semati, namun sesungguhnya itu adalah kehinaan yang akan membuat mereka saling membenci di akhirat nanti. Tuhan, aku tahu..

Engkau pula yang menghinakan mereka yang menggunakan cinta untuk berpaling dari jalan ridho-Mu..

—-

Duhai Tuhan yang Maha Kasih,
Engkau yang mengijinkanku mengerti dan berbagi pengertian tentang Bagaimana Seharusnya Berharap..

Maka ijinkanlah dan masukkanlah ke dalam hatiku perasaan harap hanya kepada-Mu,
Putuskanlah harapanku kepada selain-Mu, sehingga aku tidak melihat selain-Mu.

Surat yang aku tulis ini, Tuhan…

Aku tahu bahwa sesungguhnya Engkau telah mengetahui dan membacanya..
bukan saja pada saat aku menuliskannya saat ini dengan sepenuh hati,
namun juga pada saat semua baru tersirat dalam hati,
bahkan sejak awal pada zaman azaly…

Tuhan, aku berhenti berharap dari selain-Mu namun tak kan pernah lelah berharap pada-Mu,
Apa yang kekuatanku lemah untuk mencapainya, amalku kurang untuk meraihnya,
Keinginanku belum pernah pudar untuk meraihnya, permohonanku belum mencapainya,
yang belum terucap bibirku, yang hanya tersirat dalam hatiku,
khususkanlah aku untuk mendapatkannya dengan kasih sayang dan ridho-Mu,
duhai Tuhan semesta alam…

Sungguh kebaikan berada dalam genggaman kuasa-Mu..

dan,

Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu…

—-

Tuhanku yang Paling Penyayang di antara para penyayang,
Aku tahu, ada-ku di dunia ini adalah buah keinginan-Mu untuk berkasih sayang dalam kebaikan.

Maka perkenanlah dengan ijin dan kemuliaan-Mu agar mulai hari ini diriku
menjadi pribadi yang lebih santun dan pemaaf,
menjadi pribadi yang lebih tulus dalam berkasih sayang dan berbagi kebaikan,
menjadi pribadi yang lebih ikhlas dan sabar menerima jalan yang telah Engkau pilihkan,
menjadi pribadi yang lebih arif dan bijak dalam menyikapi setiap keadaan,
agar diri ini pantas menjadi pribadi yang Engkau sayangi lebih..

Tuhanku yang Kuasa-Mu meliputi segala sesuatu,
Engkaulah yang mampu menciptakan kehidupan dari sesuatu yang telah mati,
maka Engkau pula yang mampu menghadirkan cinta di hati orang-orang yang telah keras hati,

Tuhan yang Pengetahuan-Mu meliputi yang tampak dan yang tersembunyi,
Engkau pasti tahu persis kerinduan hati ini,
rindu pasangan jiwa yang akan menemani hari-hari dalam berbagi kasih sayang,
rindu pasangan jiwa yang akan senantiasa saling mengingatkan untuk mengingat-Mu,
rindu pasangan jiwa yang akan senantiasa saling menguatkan di saat lemah, dan saling menolong di saat menempuh jalan kebaikan,
rindu pasangan jiwa yang pandangannya mampu menyejukkan kalbu,
rindu pasangan jiwa yang pendengarannya menyukai keindahan dan merdunya kalam-Mu,
rindu pasangan jiwa yang tutur katanya menentramkan kalbu,

Robbana Hablana min Azwajina wa Dzurriyatina Qurrota A’yun waj’alni lil Muttaqiina Imaaman.

duhai Tuhan, karuniakan kepada kami pasangan jiwa dan keturunan yang menjadi penentram hati dan pandangan kami dan ijinkanlah kami menjadi Imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Alhamdulillahi robbil alamin. Amin ya Robbal Alamin.

Sumber : Arif Rahman Hakim’s Notes

Categories: My Notes Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: