Home > My Notes > Istri Pilihan

Istri Pilihan

Kalau aku dan istriku berjalan-jalan di taman sambil membawa anak, banyak yang memandang kami dengan tatapan iri. Ya, mungkin kalau dilihat dari kacamata orang kebanyakan, mereka akan iri atau paling tidak heran dengan kemesraan kami. Tapi, biarlah, yang punya hati itu cuma Allah. Dulu, waktu aku melamarnya, orangtuaku sendiri menentang.

“Andra, kamu punya mata apa tidak sih?”

“Mami, masa Mami bertanya seperti itu?”

“Ya iya dong. Kalau punya mata, kamu pasti akan bilang si Rina lebih cantik daripada Melati.”

“Ma, kecantikan itu tidak kekal. Kalau sudah tua, pasti akan keriput juga.”

“Andra, kamu kan tidak hidup besok, kamu hidup sekarang.”

“Ma, apa sih fungsinya kecantikan selain untuk menyenangkan mata? Bagi Andra, kecantikan batin lebih penting. Andra capek kalau harus menikah dengan orang semodel Rina.”

Begitulah, Mami dan aku sempat ribut karena pilihanku terhadap melati. Memang secara kasatmata, Melati tidak cantik, malah jauh dari cantik. Namun, aku tidak mau mengatakan Melati jelek, walaupun orang-orang bilang Melati itu jelek. Bahkan ada yang mengumpamakan aku dan Melati seperti bumi dan langit.

Sebenarnya, kesadaranku tentang nilai sebuah kecantikan baru saja kudapatkan dari orang-orang model Rina. Ya, Rina sebelumnya sempat menghiasi hari-hariku. Kami sempat menjalin hubungan yang cukup serius. Bahkan kami berencana akan menikah. Namun, ada satu hal yang membuatku membatalkan niat. Rina adalah tipe gadis metropolis yang banyak menuntut soal materi. Bukan aku tidak punya, tapi rasanya kurang etis membicarakan hal itu saat kami masih belum sampai pada tahap yang serius, saat kami belum terlalu lama kenal.

“Andra, kok kamu bawa Kijang sih?”

“Memang kenapa?”

“Lho, kamu kan punya BMW, mengapa bawa Kijang? Lagi pula, kita kan mau ketemu teman-temanku. Pakai mobilku saja ya.”

Percakapan seperti itu sering terjadi. Awalnya aku pikir tidak masalah, aku saja yang terlalu sentimentil. Tapi lama-lama, aku merasa bosan.

“Andra, pakaian kamu itu loh, tidak bermerek. Kamu beli di butik mana sih?”

“Tidak apa-apa, kan? Aku tidak beli di butik, Ini temanku yang jual.”

“Oh, temanmu baru buka butik?”

“Ya, tapi tidak seperti butik-butik langgananmu. Dia jualan di trotoar jalan.”

“Kaki lima maksudmu?”

“He-eh.”

“Andra…!” Rina terpekik.

Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi beberapa detik kemudian aku paham saat dia kembali berkata, “Kamu tuh, bikin malu aku saja sih.”

“Bikin malu? Aku membantu temanku yang jualan, biar ada yang beli. Kasihan dia, pekerjaannya hanya berdagang, itu pun masih harus kejar-kejaran sama kamtib.”

“Andra, Andra… kamu tuh kenal di mana sih sama orang kayak begitu?”

“Rina, dia itu teman SMA-ku. Memangnya salah, aku berteman sama orang seperti itu?”

“Kalau pilih teman, lihat-lihat dong.”

“Sudah ah, tidak usah dibahas lagi. Jadi tidak kamu kuantar?”

“Tidak mau, aku malu.”

“Ya sudah. Kalau begitu aku mau pergi ke tempat temanku.”

Di perjalanan, Rina mengirimkan SMS mesra,

Andra syg, jgn marah ya. Aku tidak mau kamu terlihat kampungan krn berteman dg org2 spt temanmu yang jualan di kaki 5 itu. Aku syg kamu, Ndra, ingin melihat km spt dulu. Trendy n handsome.

Tapi saat itu aku malah merenung, tidak tersanjung dengan SMS-nya. Aku batal pergi ke rumah teman, dan mobil berbalik arah, menuju pantai. Di pantai, aku melamun sepanjang waktu. Lamunan kuakhiri dengan satu keputusan : Aku tidak akan menikahi Rina. Mau dibawa kemana anak-anakku nanti kalau ibunya seperti itu.

Pengembaraanku mencari cinta sejati tidak berhenti di situ. Setelah Rina, ada Siska, Meilani, dan juga Rima. Semuanya cantik, kaya, terhormat, dan terpelajar. Sayang kelakuan mereka nol. Aku baru menemukan cinta sejati justru dari orang sederhana seperti Melati. Temanku Jamal yang pedagang itu mengenalkan aku pada Melati. Di ujung keputusasaanku mencari pasangan hidup yang baik, Jamal menunjukkannya.

“Andra, kamu orang baik. Dalam Islam, laki-laki yang baik pasti mendapatkan wanita yang baik pula. Aku ingin mengenalkan kamu pada Melati.”

“Melati? Namanya bagus. Siapa dia?”

“Dia teman istriku.”

“Pakai kerudung seperti istrimu?”

“Ya, kerudung itu kan kewajiban untuk para muslimah. Kalau kita laki-laki hanya sampai lutut wajibnya.”

Aku manggut-manggut, tidak pernah membayangkan punya istri yang berkerudung.

“Mal, kamu yakin Melati itu baik?”

“Seratus dua puluh persen.”

“Ya, aku percaya sama kamu. Tolong lamarkan dia buat aku.”
“Tapi kamu mesti melihat dulu. Aku tidak mau kamu kecewa.”

“Tidak perlulah.”

“Ndra, kamu ikhlas menerima Melati tanpa melihat dulu wajahnya? Atau kamu tidak ingin berdiskusi dulu untuk mengetahui visinya berkeluarga?”

“Sudahlah, Mal, aku lelah, dan aku ikhlas menerima Melati sebagai istriku bagaimanapun keadaannya, yang penting dia baik seperti istrimu.”

“Kamu serius?”

“Dua ratus rius.”

“Tapi, Melati…. hmmm, maaf.. dia tidak seperti teman-teman wanitamu.”

“Itu lebih baik.”

“Ndra, kamu yakin?”

Aku mengangguk mantap dan memandang mata Jamal untuk meyakinkan.

Begitulah cerita kehidupanku bergulir. Pernikahan kami berlangsung sederhana. Karena Mami tidak menyetujui Melati menjadi menantu, otomatis tidak ada perayaan mewah seperti pesta pernikahan kakak-kakakku. Tapi aku tidak sedih. Aku hanya ingin menikah dengan gadis baik-baik, punya keturunan baik-baik. Di zaman seperti sekarang, bagiku sangat langka menemukan orang-orang seperti Jamal.

Melati – saat ini istriku, memang wanita yang baik seperti kata Jamal. Dia tidak pernah menuntut apapun dalam hal materi. Malah, karena gajiku terlalu besar menurutnya, dia menyarankan aku untuk memelihara anak yatim di rumah kami. Satu hal yang dia tuntut dariku adalah jangan beri dia dan anak-anak kami makanan yang perolehannya tidak halal.

Ya, Allah, nikmat seperti apalagi yang bisa aku syukuri selain dari nikmat memiliki istri yang baik seperti Melati ? Dan kata Jamal, keikhlasanku saat menerima Melati itulah yang membuka pintu keberkahan dari Allah.

Sumber : “Cermin Hati – Ikhlas”, Enno El-Khairity

Catatan :

“Wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chit chat yang snob, merokok dan kadang mabuk – tidak mungkin direncanakan jadi istri”

Tulisan di atas adalah posting Pak Mario Teguh dalam Tweetnya yang kemudian menuai kontroversi.

Sesungguhnya, laki-laki yang masih memiliki akal sehat tentu akan setuju dengan Post pak Mario tersebut, karena istri adalah pilihan teman seumur hidup. Sebaliknya, wanita dengan akal sehat pun akan setuju dengan post tersebut untuk kondisi laki-laki yang akan dipilihnya mendampinginnya di sepanjang sisa waktunya.

Tambahan :
————–
Jika ada kesamaan nama yang disebut dan berkonotasi negatif, saya minta maaf. Tidak semua Rina, Siska, Meilani dan Rima itu tidak baik. Hanya kebetulan saja yang tertutur dalam kisah ini.
Saya yakin, masih ada juga Rina, Siska, Meilani dan Rima yang berhati “Melati”…

Untuk semua wanita yang membaca Notes ini, saya berdoa :
Semoga Tuhan yang Maha Indah, menjaga hati kalian semakin indah dan mendekatkan kalian pada jodoh-jodoh yang sholeh yang mencintai kalian bukan karena fisik dan materi, namun karena keindahan hati yang terjaga

Untuk semua laki-laki yang membaca Notes ini, saya juga berdoa :
Semoga Tuhan yang Maha Baik, membaikkan niat dan hati kalian agar mampu melihat kecantikan hati yang disembunyikan-Nya bahkan dalam rupa dan materi yang serba kekurangan, serta mendapatkan jodoh-jodoh yang sholehah yang mencintai dan ikhlas menerima karenaNya

Untuk semua, bantulah membuat doa-doa itu terkabul dengan mengupayakan diri dan memantaskan diri menerima terkabulnya doa tersebut.

  1. Arda
    June 14, 2010 at 1:05 pm

    perempuan2 yg baik u laki2 yg baik, dn laki2 yg baik u perempuan2 yg baik pula(QS.24:26)

  2. June 14, 2010 at 1:22 pm

    Mbak Arda, Terima kasih sudah memberikan komen terindah dari kalam terindah.. Smoga kita dijadikan dan dijodohkan dengan yang terbaik di mata-Nya. Amiin..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: